Satu Payung untuk Tiga Orang
Pagi itu langit tampak mendung. Angin bertiup pelan, seolah memberi pertanda bahwa hujan akan segera turun. Di halaman sekolah, Dimas duduk di bangku panjang sambil membaca buku. Ia memang selalu datang lebih awal dibanding teman-temannya. Dimas bukan anak yang suka bermain gadget seperti anak-anak lain. Ia lebih senang menghabiskan waktu membaca cerita-cerita sejarah atau tokoh-tokoh penemu terkenal. "Kalau aku besar nanti, aku ingin jadi orang yang berguna," ucapnya suatu waktu kepada gurunya.
Jam sekolah berlalu dengan cepat. Menjelang pukul dua siang, hujan deras turun tanpa ampun. Petir menyambar, dan halaman sekolah tergenang air. Banyak siswa tidak membawa jas hujan maupun payung. Mereka hanya bisa menunggu di teras kelas, berharap hujan segera reda.
Dimas membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah payung besar berwarna biru. Ia melirik ke arah dua teman sekelasnya, Nino dan Akbar, yang tampak kebingungan. Mereka tinggal cukup jauh dari sekolah dan tidak membawa perlindungan apa pun. Tanpa banyak bicara, Dimas berjalan mendekati mereka dan menawarkan payungnya.
"Kalau kalian tidak keberatan, kita pulang bareng saja. Aku bawa payung," katanya sambil tersenyum.
Mereka berjalan bertiga di bawah satu payung. Sesekali, Dimas memiringkan payungnya agar air hujan tidak mengenai temannya, meski itu membuat bajunya sendiri sedikit basah. Sepanjang perjalanan, Nino dan Akbar tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Tapi Dimas hanya menjawab, "Gak apa-apa kok. Kalau aku ada rezeki bisa bantu orang lain, ya aku bantu. Lagian, kita kan teman."
Setibanya di rumah, baju Dimas memang basah. Tapi ia justru merasa hangat. Bukan karena air hujan, melainkan karena perasaan senang telah membantu orang lain.